Minggu, 07 Februari 2010

ForePlay sebelum melakukan..

 "Cynthia terkadang merasa kecewa terhadap suaminya. Belum lagi ia mencapai "puncak" pada hubungan intim mereka, suaminya sudah "selesai". Purnomo, suaminya, sudah melepaskan pelukannya, bahkan tertidur mendengkur. Keadaan ini membuat Cynthia putus asa , justru ketika ia merasakan gejolak gairahnya baru mulai meningkat, Purnomo sudah mencapai "puncak' dengan caranya sendiri."

Demikian halnya dengan Hadi. seorang suami ia sering merasa kecewa terhadap istrinya.
Sebab tak jarang terjadi, ia belum mencapai "puncak" hubungan intimnya, Mimi istriya sudah memintanya berhenti. Dan Hadi hanya bisa menahan kecewa, dengan bersikap seolah-olah ia juga sudah puas sebagaimana istrinya


Apa penyebab dari faktor ini ?
Pertanyaan ini yang selalu mengganjal dalam pikiran Robert Flemings, sehingga ia melakukan penelitian yang mendalam tentang faktor penyebab dari kekecewaan yang tidak perlu ini. Sebab mestinya suami istri harus sama-sama pada kondisi puncak ketika melakukan hubungan intim. Dalam arti bahwa kedua pasangan sama-sama puas, dan bukan yang satu puas sementara yang lainnya kecewa.

Menurut Robert Flemings, seorang konsultan perkawinan dari Kopenhagen, umumnya gejala-gejala demikian menunjukan kepuasan yang pincang. Artinya pihak laki-laki merasa puas, sementara istrinya merasa kecewadan tidak puas. Kemungkinan sebaliknya bisa juga terjadi.

Seperti kasus Mimi. Sebagai istri, diam-diam ia merasa kurang suka dengan"permainan" Hadi diatas ranjang. Maka tak heran bila dalam seminggu hanya sekali ia mau melayani suaminya. Selebihnya ia mencari berbagai dalih untuk menghindari permintaan Hadi yang menggebu-gebu. Ketika diusut oleh teman dekatnya, ternyata jawaban Mimi sangat mengejutkan.

Sesungguhnya Mimi sendiri merasa keinginan untuk berhubungan intim cukup tinggi. Dan Mimi juga ingin merasakan "puncak kenikmatan" hubungan intimnya, tapi semua itu ditekannya saja, lantaran Mimi sering kecewa dengan permainan suaminya yang monoton. Hadi tidak pernah memahami keinginannya yang terpendam. Ketika mereka berada di peraduan, Hadi biasanya langsung main "terjang" tanpa berusaha memperhatikan keinginan istrinya.

Sialnya, Mimi tidak mengungkapkan hal ini. Mimi " tidak mampu" mengatakan letupan keinginannya. Mimi hanya pasrah saja membiarkan suaminya "menjarah" kenikmatan dalam bercinta. Kondisi seperti ini mestinya tidak perlu terjadi kalau keduanya saling membuka diri dan berdialog satu sama lain.

Mengamati kasus Mimi dan Hadi, tentu saja kita bisa menyimpulkan bahwa suasana dan permainan cinta hendaknya lebih variatif dan tidak monoton. Artinya bila hubungan biologis itu dilakukan secara rutin dan monoton, tanpa variasi jenis memang dapat menimbulkan kejenuhan dan menurunkan tingkat kepuasan sampai pada perasaan kecewa pada salah atu pihak.

Bila kekecewaan ini dibiarkan terpendam dan berkepanjangan, akan menimbulkan berbagai keluhan baik psikis maupun fisik. Oleh karena itu selayaknya suami istri selalu mencoba pengalaman-pengalaman baru dan mengeksplorasikan dalam bentuk variasi.
 
Perlunya Foreplay.  
Dari contoh kasus kehidupan ranjang pasangan Hadi - Mimi dan Cynthia - Purnomo, maka jelas sangat diperlukan berbagai variasi. Salah satunya yang banyak dilakukan pasangan suami istri adalah tahap permainan awal ( Foreplay ) atau bisa juga bisa disebut sebagai tahap pemanasan
( warming up ) sebelum melakukan hubungan intim.

Tahap pemanasan ini sangat penting sekali bagi suami istri, sebagai salah satu upaya agar pihak istri maupun pihak suami dapat mencapai "puncak". Sebab bila langsung saja dilakukan dengan mesra, maka dalam waktu yang relatif singkat pihak suami yang cepat mencapai ejakulasi, sementara si istri belum "apa-apa". Hal ini tentu saja menimbulkan kekecewaan terus menerus, pada salah satu pihak. Padahal bila seorang istri mengalami kekecewaan terus menerus, lambat laun kegairahannya kian menurun dan lama-lama menjurus kepada frigit (dingin).

Adapun masalah yang sering dihadapi, sebagaimana juga yang kita alami, ialah rasa enggan pihak istri untuk melakukan permainan oral sebagai permainan tahap awal. Padahal inilah salah satu variasi yang dapat membantu mempercepat proses mencapai "puncak".
Bila salah satu pihak mengemukakan alasan jijik, malu dan tidk etis, karena itu hendaknya satu sama lain harus selalu menjaga kebersihan dirinya. Untuk mengatasi hal seperti ini, sebaiknya mulai dibicarakan dengan pasangan kita.
Gaya yang bagaimana yang dapat membangun dan membangkitkan gairah anda dan pasangan tercinta. Siapa tahu, permainan dengan variasi baru bisa merangsang kita yang selama ini merasa lambat atau dingin.

Nah, jangan enggan untuk mencoba mengeksplorasikan sesuatu yang baru.
Sebab yang baru itu memang penuh daya tarik dan daya rangsang.

Selamat mencoba..***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar